Stasiun Angke ditertibkan
Upaya ratusan warga untuk tetap bertahan tinggal di lahan empalesem Stasiun Angke, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Kamis (17/1) pagi pupus sudah. Sekitar pukul 09.45 WIB, ratusan petugas PT KA Daerah Operasi 1 meluluhlantakkan 500 bangunan tempat tinggal dan usaha warga di atas lahan milik PT KA itu.
Penertiban tersebut diwarnai aksi bentrok antara petugas dengan warga. Pasalnya, warga menolak bangunan yang mereka tempati dibongkar. Alhasil aksi lempar batu pun tak bisa dihindari.
Meski tidak ada korban jiwa, lemparan batu tersebut mengakibatkan beberapa petugas mengalami luka-luka. Sedikitnya tiga orang warga berhasil diamankan petugas kepolisian, karena dianggap sebagai provokator. Satu orang diantaranya tertangkap basah membawa senjata tajam jenis samurai.
Sebelum aksi pembongkaran dilakukan, puluhan warga dan petugas bersitegang menentang pembongkaran. "Kami belum mendapat informasi dari PT KA. Yang kami dapat hanya dari PT Makindo yang akan membangun kios di lahan ini," kata Mustofa, satu warga kepada petugas.
Bahkan, kata dia, PT Makindo telah menawarkan sewa kios itu kepada warga dengan harga mencapai Rp 125 juta. "Kalau PT KA akan menggunakan lahan ini untuk kepentingan umum silakan, tapi sebelumnya ada koordinasi dulu dong," tegas warga.
Menanggapi protes tersebut, Kepala Humas Daerah Operasi 1 Jakarta, Akhmad Sujadi, mengatakan, pihaknya sudah tiga kali melayangkan surat pemberitahuan kepada warga untuk segera mengosongkan lahan itu. "Surat pemberitahuan sudah dikirimkan ke warga sebanyak tiga kali. Yang pertama awal Desember 2007 dan terakhir Rabu (16/1) kemarin," katanya.
Bahkan, kata Sujadi, pihaknya jug memberikan tenggang waktu kepada warga untuk membongkar bangunannya sendiri. Tapi, sampai batas waktu yang ditentukan, ternyata masih banyak bangunan yang masih berdiri, hingga akhirnya terpaksa dibongkar oleh petugas.
Penertiban bangunan liar itu, lanjut Sujadi, terkait adanya kereta api jalur lingkar yang melintasi Stasiun Angke. Pengoperasioan jalur lingkar merupakan kesepakatan Dirjen Perkeretaapian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dan PT KAI (Persero) untuk mengantisipasi kemacetan di dalam kota.
Selain itu, pebertiban bangunan liar itu juga terkait dengan rencana pembangunan Stasiun Angke yang akan menghubungkan langsung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan menggunakan KA Railing. "Stasiun Angke, nantinya akan dihubungkan langsung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta," jelasnya. "Jika di sisi jalur KA banyak terdapat bangunan liar akan berpengaruh pada kelancaran opersional kereta api," ujarnya.
Dia menegaskan, di atas lahan 1.000 meter persegi itu berdiri sekitar 500 bangunan rumah tinggal dan usaha, dan semuanya adalah ilegal alias liar. "Semua bangunan liar yang ada di bantaran rel KA akan dibongkar tanpa terkecuali," tegasnya. "Akhir tahun ini, semua jalur rel KA akan bebas dari bangunan liar," katanya.
Di Jakarta, kata dia, terdapat 14 stasiun yang akan dibangun sebagai stasiun percontohan meliputi Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang, Stasiun Sudirman, Stasiun Karet, Stasiun Tanah Abang, Stasiun Duri, Stasiun Angke, Stasiun Kampung Bandan, Stasiun Kemayoran, Stasiun Pasar Semen, Stasiun Kramat, Stasiun Pondok Jati, Stasiun Jatinegara, dan Stasiun Rawajati.
Aksi pembongkaran yang dilakukan sekarang ini, ungkap Sujadi, melibatkan sedikitnya 600 petugas PT KAI meliputi para kepala stasiun, masinis, kondektur, dan pegawai yang tidak berdinas. "Penertiban ini, kami sudah berkoordinasi dengan Pemkot Jakarta Barat," paparnya. "Tapi petugas pembongkaran ini murni dari pegawai PT KAI yang dibantu pengamanannya oleh pihak kepolisian," jelasnya.
Masyarakat yang bangunannya dibongkar, tutur Sujadi, akan mendapat tiket gratis pulang ke kampung halaman masing-masing. "Bagi mereka yang mau pulang kampung, silakan mendaftar di stasiun," tukasnya. Saat ini sudah ada empat orang yang mendaftar," pungkasnya.













0 comments:
Post a Comment