Monday, June 16, 2008

Kumuh di dekat istana

Kondisi kolong jembatan layang rel KA Jl Juanda, Pasar Baru, Jakarta Pusat semakin memprihatinkan. Kolong jembatan layang yang seharusnya bebas dari berbagai kegiatan, ternyata kini dipenuhi bangunan liar bertingkat yang dihuni sebagian pemulung sekitar.

Ketinggian bangunan liar yang terbuat dari kayu itu hampir menyentuh dinding atap jalan layang milik PT KA. Kondisi ini tentu sangat membahayakan, apalagi jika terjadi kebakaran seperti yang melanda ratusan bangunan di kolong jembatan tol Penjaringan, Jakarta Utara.

Mulyadi, warga sekitar mengaku kesal dengan kondisi wilayahnya yang terkesan kumuh dan semrawut akibat kegiatan penghuni bangunan itu. "Banyak sampah yang menumpuk dan tercecer di jalanan," katanya. "Sampah-sampah itu juga membuat saluran air tersumbat, akibatnya genangan air pun menjadi pemandangan sehari-hari," ungkapnya, Jumat (13/6).

Karena itu ia berharap pihak berwenang segera menertibkan bangunan itu, jangan menunggu peristiwa kebakaran di kolong jembatan tol Penjaringan Jakarta Utara terulang kembali. "Lokasi itu sangat dekat dengan bangunan warga. Kalau kebakaran bisa dipastikan akan menjalar ke rumah penduduk," katanya. "Kalau sudah terjadi bukan pemerintah saja yang rugi, warga pun juga dirugikan," ungkapnya.

Dedi Arif Darsono, Lurah Pasar Baru, mengakui kondisi kolong jembatan layang KA Juanda semakin hari semakin kumuh. Namun untuk menertibkan bangunan tersebut bukan kewenangannya karena bangunan tersebut itu berdiri di atas lahan milik PT KA. "Penertiban bangunan tersebut kewenangan PT KA," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, permasalahan itu sudah dibahas melalui rapat di kantor kecamatan yang dihadiri Humas Daop I PT KA, Sudjadi. PT KA mengatakan akan menertibkan bangunan itu bulan Maret lalu, namun sampai sekarang belum juga terealisasi. [dari berita jakarta]

Read More...

Saturday, April 12, 2008

Penertiban St Tanah Abang - St Bukit Duri

Ratusan gubuk liar dan bangunan di bantaran rel kereta api, mulai dari Stasiun Tanah Abang hingga Stasiun Bukit Duri, ditertibkan 300 aparat gabungan dari PT KA, aparat Tramtib Pemkot Jakarta Pusat, serta aparat kepolisian, Kamis (10/4).

Para penghuni gubuk tersebut hanya bisa pasrah melihat gubuk-gubuk yang mereka tempati dihancurkan petugas. Meski demikian, sebagian penghuni mengaku sudah biasa mengalami penertiban seperti ini. “Saya sudah terbiasa dengan penertiban seperti ini. Begitu situasi sudah aman, saya akan dirikan kembali bangunan di sini,” ujar, Raminah (70) salah seorang pemilik gubuk.

Raminah mengaku sudah puluhan tahun tinggal di bantaran rel kereta api Tanah Abang. Dalam kurun waktu tersebut, gubuk yang ia tempati sudah berulangkali ditertibkan. Namun wanita tua asal Tegal Jawa Tengah itu selalu kembali ke tempat itu. “Saya datang ke Jakarta sejak tiga puluh lima tahun lalu, dan tempat tinggal saya ya di sini ini,” ucapnya.

Sri Sugiarti (42), penghuni gubuk lainnya mengatakan, dirinya sudah mengetahui penertiban ini sejak 11 hari lalu melalui surat peringatan pembongkaran. Namun dia menyayangkan kenapa harus mereka yang ditertibkan, bukan gubuk-gubuk yang dijadikan tempat mesum di kawasan Bongkaran yang dibongkar. “Seharusnya petugas membongkar gubuk-gubuk di kawasan Bongkaran, bukan gubuk kami,” ketusnya.

Kepala Humas Daops I PT KA Jabodetabek Akhmad Sujadi, menegaskan langkah penertiban dilakukan karena selama ini keberadaan bangunan liar tersebut mengganggu perjalanan kereta api.

“Pembongkaran ini dilakukan sesuai perundang-undangan kereta api yang mengharuskan jalur kereta bersih dari adanya bangunan dengan jarak selebar tiga meter pada sisi kanan dan kiri rel,” jelasnya.

Sebelum dilakukan pembongkaran, kata Sujadi, PT KA telah melakukan sosialisasi kepada warga sejak tanggal 8 Maret lalu. Bahkan warga pun menyadari kesalahannya, sehingga sebagian besar telah membongkar sendiri bangunannya. “Hari ini kita lakukan pembongkaran bangunan-bangunan yang masih berdiri serta membersihkan puing-puingnya. Kesadaran warga yang mau membongkar sendiri bangunannya patut kita hargai demi menciptakan Jakarta yang nyaman, aman, dan tertib untuk seluruh pengguna kereta api,” kata Sujadi.

Sujadi menjelaskan, panjang jalur lingkar Manggarai, Tanah Abang, Bukit Duri, dan Kampung Bandan sekitar 27 kilometer. Sebelumnya, 19 kilometer sangat kumuh. Namun setelah dilakukan penertiban secara rutin, jalur tersebut sudah mulai bersih dari bangunan liar.

“Dari 19 bantaran rel yang tergolong sangat kumuh, saat ini sudah berkurang hingga 70 persen. Yang tersisa setelah hari ini tinggal Manggarai Tanah-Abang dan Jakarta kota-Kemayoran. Dan kami telah melakukan sosialisasi untuk penertiban selanjutnya,” pungkasnya. [beritaJakarta]

Read More...

Friday, April 4, 2008

Integrasi dengan Busway

"Untuk menambah daya angkut penumpang, antara KA Jabotabek dengan busway segera diintegrasikan," demikian Gubernur Fauzi menyatakan di balai kota kemarin. Sarana penunjang dan managemen pendukung pengintegrasian itu akan dikaji bersama dengan PT Kereta Api, dari sistem tiketing, halte dengan stasiun, dan pengaturan feeder.

Saat ini, halte busway yang dapat diintegrasikan belum seluruhnya menjangkau stasiun KA. Sebab, antara halte dengan stasiun yang berada dalam satu wilayah, masih ada yang berjauhan. Namun, hal itu akan bisa diatasi seiring diperluasnya koridor busway yang direncanakan hingga 15 koridor.

Peluncuran jalur KA Blue Line masih sepi penumpang karena belum terintegrasi dengan sistem jaringan busway. Kepala Dinas Perhubungan DKI Nurachman menyatakan, pengintegrasian yang bisa direalisasikan baru empat koridor:

  • Koridor I dapat dipadukan di Stasiun Dukuh Atas serta Jakarta Kota.
  • Koridor II di Stasiun Senen dan Juanda.
  • Koridor III di Stasiun Juanda.
  • Koridor VI di Stasiun Dukuh Atas.

Koridor lain masih belum memungkinkan lantaran busway belum menjangkau seluruh stasiun. "Seperti di Jatinegara itu bisa kalau ada Koridor 12. Tanah Abang juga belum ada. Untuk Senen juga agak jauh," ujar Nurachmanterangnya .

Untuk mengantisipasinya bisa disiasati dengan penyediaan feeder, dari halte menuju stasiun dan sebaliknya.

Penggabungan tiket yang diusulkan kepada PT KA masih harus dikaji dan belum ada hasilnya. "Apakah tahun ini bisa direalisasikan, nanti menunggu tersedianya titik-titik transfer, sistem tiket, dan siapa yang membiayai," ungkapnya.

Kepala Humas PT KA Daops I Jabotabek Akhmad Sujadi menyambut baik ide Gubernur DKI Fauzi Bowo tersebut. Untuk mengintegrasikan KA dengan busway, harus dibangun sejumlah halte yang berdekatan dengan stasiun. Sebab, tidak mungkin PT KA memindah stasiun atau membangun stasiun baru jika jalur rel tidak tersedia. Sementara untuk penyatuan tiketing, tidak akan mengalami kendala lantaran untuk KA sendiri sudah diterapkan tiket elektronik. "Kalau soal harga harus dibicarakan lagi. Sebab, ini menyangkut jauh dekat rute yang ditempuh," katanya. [dari Indopos, BeritaJakarta]

Read More...

Monday, March 31, 2008

32 km jalur ganda baru

Dirjen Perkeretaapian Dephub Wendy Aritenang mengadakan inspeksi jalur kereta api Tanah Abang-Merak yang melintasi Serpong dan Maja, Senin (31/3).

Humas Dirjen Perkeretaapian Soeprapto mengatakan tujuan inspeksi ini untuk evaluasi rencana membangun jalur ganda (double track) jurusan Serpong-Maja sepanjang 32 km.

"Tahun 2008 ini akan dimulai pembangunan jalur ganda KA Serpong-Maja,namun tahap awalnya dimulai Serpong- Parung Panjang sepanjang 12 kilometer," kata Soeprapto kepada wartawan di gerbong Kereta Luar Biasa (KLB) Wijayakusuma saat menuju lokasi inspeksi.

Dirjen Perkeratapian Wendy Aritenang dijadwalkan meninjau Stasiun KA Parung Panjang, Maja hingga Merak.(dari Media Indonesia)

Read More...

Saturday, March 29, 2008

Mogok kerja

Sedikitnya 404 pekerja PT Kereta Api mengancam akan mogok kerja pada 31 Maret nanti, mereka menuntut untuk diangkat sebagai karyawan tetap karena telah delapan tahun bekerja sebagai tenaga kontrak.

Pupuh Saefulloh, Ketua Serikat Pekerja Kereta Jabodetabek, mengatakan mereka yang ditempatkan di penjual tiket, penjaga pintu masuk, dan bagian administrasi. ”Kami minta maaf kepada masyarakat kalau pelayanan akan sedikit terganggu,” katanya kemarin.

Menurutnya, sejak penerapan outsourcing ini berlangsung pada 2000, PT KA telah melanggar UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan Sistem Kontrak. ”Selain kejelasan status kerja, kami juga menolak swastanisasi dan privatisasi pengelolaan kereta api,” ujarnya.

John Silaban, pegiat Aliansi Buruh Menggugat melaporkan rencana kegiatan mereka ke Direktorat Intelijen dan Keamanan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta kemarin. Menurut John, tenaga outsourcing dan pekerja harian di PT KAI umumnya bekerja sebagai penjaga tiket di pintu masuk dan pintu dalam, penjaga lintasan pintu kereta, petugas kebersihan, hingga operator pengeras suara di stasiun. Jumlah keseluruhannya mencapai 800 orang.

"Banyak juga yang memilih tak ikut mogok kerja," ujar John. Sejak menjadi perseroan terbatas, penyelenggara layanan kereta api itu mulai memberlakukan sistem kerja kontrak. Mereka terdaftar di Koperasi Wahana Usaha Jabotabek.

Kahumas PT KA Daop I Akhmad Sujadi menyatakan tidak akan menggubris ancaman mogok kerja tersebut, pasalnya, mereka hanyalah karyawan kontrak yang direkrut sebagai pekerja tambahan. Kontrak berisi tanggung jawab dan hak mereka berada di tangan perusahaan yang menyalurkan mereka, kewajiban PT KA hanya membayar gaji mereka. "Jika mereka mogok tidak akan mengganggu pelayanan kereta kepada masyarakat,” ujarnya karena masih ada 27.000 karyawan tetap.

Dikatakan PT KA bukan mengontrak tenaga kerja, "Tetapi menggunakan jenis pekerjaannya," kata Sujadi. Mulai 1 April mereka akan ditampung oleh PT Kencana Lima, pekerjaan yang sama. "Hanya beda manajemen saja," ujar Sujadi.

Direktur Utama PT Kencana Lima Yudi Setiawan mengaku belum mengadakan kontrak dengan PT KA. "Kontrak itu masih dalam pembahasan," kata Yudi

Gubernur Fauzi Bowo mengharapkan ancaman mogok tersebut tidak menjadi kenyataan, dan mengharapkan agar manajemen PT KA bersikap bijak. ”Mereka harus bisa duduk bersama agar masyarakat pengguna jasa kereta api tidak mengalami gangguan,” harapnya. (koran sindo, koran tempo)

Read More...

Petugas dikeroyok copet

Petugas Keamanan Dalam atau PKD Kereta Api, Purnomo, dianiaya kelompok copet di Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (28/3). Purnomo dan sejumlah petugas saat itu berusaha menghalau kelompok copet yang mengganggu lalu lalang penumpang yang hendak naik ke atas kereta Jakarta-Rangkasbitung.

Juru Bicara PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi Satu Akhmad Sujadi yang dihubungi Kompas menjelaskan, kelompok copet sudah sering mengganggu dan melawan petugas PT KA. ”Purnomo dianiaya kawanan copet yang lalu melarikan diri. Satu orang ditangkap dan diamankan di Pos Polisi Gelora di dekat Gedung DPR. Awal bulan ini anggota PKD bernama Agus juga dianiaya di sekitar Stasiun Kebayoran Lama,” kata Sujadi.

Saat dicari di Pos Polisi Gelora, tersangka copet yang bernama Roland Arimatea (19), asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengaku bertempat tinggal di Sudimara, Kabupaten Tangerang, telah dilepas petugas.

Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Ngatiyono yang ditemui di pos polisi menjelaskan, dalam kejadian itu tidak ditemukan barang bukti kejahatan sehingga yang bersangkutan terpaksa dilepas. ”Pak Purnomo yang menjadi korban pemukulan juga tidak mau mengajukan tuntutan. Namun, kami meminta Roland untuk membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan,” kata Ngatiyono.

Dalam surat pernyataan, Roland yang tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) menjelaskan telah menumpang kereta tanpa membeli karcis dan menganiaya petugas PT KA. Menjelang petang, Purnomo sudah dapat kembali bertugas setelah diobati di Stasiun Palmerah.

Akhmad Sujadi menerangkan lebih lanjut, perilaku kelompok copet dan preman di kereta api semakin brutal belakangan ini. ”Sejak operasi penertiban diperketat, para pencopet makin nekat. Mereka bahkan menghasut penumpang untuk melawan petugas, seperti terjadi awal bulan ini,” kata Sujadi.

Para pencopet membentuk kawanan yang terdiri dari empat hingga delapan orang di setiap gerbong. Mereka menghalang-halangi penumpang yang hendak naik atau turun. Para petugas sudah mengenali wajah dan kelompok pencopet yang biasa beroperasi. Sujadi berharap polisi segera membantu PT KA menumpas para copet. (Ong - KOMPAS)

Read More...

Monday, February 11, 2008

Bulan Tertib Berkereta dimulai

naik-atap-2000Sejak puk ul 07.00 di Stasiun Manggarai hingga pukul 08.00 hari ini, tercatat 16 penumpang terjaring aksi Bulan Tertib Berkereta. Para pekerja dan pelajar tersebut mengisi surat bukti pelanggaran dan meninggalkan identitas mereka.

Deri (22), warga Lenteng Agung yang menuju ke Dukuh Atas ke tempat kerjanya di Bundaraan Hotel Indonesia tidak mampu menunjukkan tiketnya.  Zaki (23) warga Depok dan Irwan Syahroni karena naik di atas kabin.

Untuk hari pertama ini, mereka hanya diperingatkan, jika tertangkap keduakalinya akan dikenai denda sebesar Rp15 juta atau kurungan selama 3 bulan. 600 personel per hari disebar di berbagai stasiun, bekerja sejak pukul 05.00 hingga pukul 21.00. Meski baru dua jam, efektivitasnya mulai terlihat. Tidak ada pedagang dan pengemis berkeliaran di kereta ekonomi. Kabin masinis pun bersih dari penumpang nakal.

Sementara dari Media Indonesia dikabarkan 229 orang terjaringpada hari Senin, kebanyakan tidak memiliki tiket saat menumpang kereta. 93 orang dijaring dari KA lokal Cikampek-Jakarta, 6 orang di Stasiun Jatinegara, 130 orang dalam KA Cilegon-Bekasi. Penumpang KA ekonomi tanpa tiket didenda Rp. 5ribu, KRL AC didenda Rp30ribu. Total hasil denda penumpang tanpa tiket Rp.465ribu dari KA Cikampek-Jakarta, Rp.180ribu di Jatinegara, Rp.650ribu dari KA Cilegon- Bekasi.

Read More...

Baca juga:

Grab the widget  Tech Dreams